TUGAS MAKALAH
MACAM-MACAM ETIKA
KOMUNIKASI
“ ETIKA BERORGANISASI ”
Tugas Mata Kuliyah : Etika Komunikasi
Dosen Pembimbing : Praminto, M.Pd
Disusun Oleh :
Nur Hasana
( 13187205013 )
PROGRAM STUDY PPKN
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
ANGKATAN 2013
KATA PENGANTAR
Puji syukur atas kehadirat Allah SWT karena dengan
rahmat dan karunia-Nya sehingga tugas pembuatan makalah dengan judul “ETIKA BERORGANISASI “ dapat diselesaikan. Shalawat serta salam saya
curahkan kepada junjungan kita, Nabi Muhammad SAW beserta keluarga, dan para
sahabat. Semoga kita masih dalam perlindungan Allah SWT.
Penulisan
makalah ini dibuat
adalah
salah satu tugas dan persyaratan untuk menyelesaikan tugas mata kuliyah Etika
Komunikasi di STKIP PGRI PASURUAN Program Study
PKN pada
semester enam.
Dalam
kesempatan kali ini tidak lupa penyusun mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak
yang telah memberikan sumbangan pikiran sehingga tugas ini bisa terselesaikan. Penyusun
menyadari bahwa paper ini tidaklah sempurna. Oleh karena itu, masukan dan saran
dari pembaca ini sangat di harapkan.
Semoga makalah ini bisa menjadi sumber referensi dan bermanfaat bagi para pembacanya.
Pasuruan, 12 April 2016
Penyusun
i
DAFTAR ISI
HALAMAN
JUDUL
KATA
PENGANTAR ........................................................................................
i
DAFTAR ISI
................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
................................................................................. 1
1.2 Rumusan
Masalah ........................................................................... 1
1.3 Tujuan Makalah
............................................................................. 2
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Etika ……………………………………………………………… 3
2.2
Etika dan moral……………………………………………………… 4
2.3
Etika Organisasi …………………………………………………….. 5
2.4.
Kode etika organisasi Seprofesi…………………………………….. 5
2.5
Pengertian Manfaat Budaya Bagi Etika Berorganisasi………………. 6
2.6
Hubungan Etika dalam Organisasi …………………………………… 6
2.7
Manfaat Dan Pentingnya Etika Dalam Organisasi …………………… 7
2.8
Etika Dalam Sidang Saat Berorganisasi ……………………………… 7
2.9
Hal Yang Harus Di Perhatikan Untuk Menjaga Etika Persidangan …. 7
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan
...................................................................................... 10
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Bedasarkan etika dalam bermasyarakat indonesia yang bermoral, oleh
karena itu kita harus memilah mana yang baik dan mana yang buruk. Dan seiring
berjalammua perkembangan jaman pada saat ini, sebagian remaja dan anak muda
terkadang selalu mengikuti pergaulan yang bergerak dalam bidang mayoritas atau
ketenaran. Perkembangan tekmologi yang semakin cepat adalah faktor utama
perubahan bahasa, sikap, dan pribadi seseorang. Di sini saya sebagai penulis
memandang bahwa faktor perubahan teknologi tidak selamanya positif bahkan
melainkan menjadi hal negatif untuk masa muda saat ini. Pada sebagian budaya
yang telah tercantum dalam nilai luhur dan nilai budaya.
Pada sesungguhnya perkambangan jaman bisa juga di anggap hal
negatif, karena sedikitnya manusia lebih banyak berdiam diri dan menggunakan
teknologi berjangka lama sehingga tidak terkadang tidak peduli dengan
masyarakat. Dalam hal ini perkembangan teknologi membuat anak muda mencari uang
bukan untuk menabung di masa depan ataupun menolong sesama, akan tetapi mereka
berfikir untuk membeli teknologi yang lebih cangih seperi laptop, handphone,dan
lain sebagainya.
Dan pada dasarnya suasana pada kebudayaan indonesia yang berdampak
pada teknologi dan pergaulan akan mengakibatkan suasana yang negatif. Oleh
karena itu pendidikan dalam etika sangat lah penting dan perlu di pelajari oleh
generasi muda saat ini. Pernah kita melihat di televisi yang lebih banyak
menayangkan tentang sisi positif pada film ataupun jalur ceritanya.
Karena dari itu saya sebagai penulis menjelaskan tentang etika di
negara ini, salah satunya dalam masyarakat dan organisasi. Maupun di dalam
sekolah, persidangan dan masyarakat. Kita harus mencontoh yang baik dan
menjauhi yang buruk
1.2 Rumusan Masalah
1)
Seberapa pentingnya etika
dalam sebuah organisasi?
2)
Apakah masalah etika yang
perlu diperhatikan dalam kaitan dengan praktek-praktek organisasi di tempat
kerja ?
3)
Seperti apa contoh kasus
yang sering muncul pada etika berorganisasi, dan bagaimanakah penyelesaian dari
kasus tersebut?
1.3 Tujuan Makalah
1)
Mahasiswa mampu
mengetahui Seberapa pentingnya etika dalam sebuah organisasi.
2)
Mahasiswa mampu
mengetahui masalah etika yang perlu diperhatikan dalam kaitan dengan
praktek-praktek organisasi di tempat kerja.
3)
Mahasiswa mampu mengetahui
Seperti apa contoh kasus yang sering muncul pada etika berorganisasi, dan
bagaimanakah penyelesaian dari kasus tersebut.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Etika
Etika adalah suatu yang mendalami
standar moral bermasyarakat. Oleh karena itu kita wajib memepertahankan dan
menerapkan standar-standar moral dalam bermasyarakat. Kita pun wajib melihat
dan menilai sikap dan prilaku seseorang dalam bermasyarakat untuk mengetahui
yang mana sikap buruk mau pun sikap baik. Moral dan prilaku seseorang akan
menghasilkan pendapat seseorang mengenai etika. Berdasarkan pandangannya moral
dalam suatu masyarakat berbeda tergantung dimana orang itu berbeda karena
setiap lokasi dan tempat tata cara beretika berbeda.
Indonesia memiliki berbagai macam
suku, RAS, bahasa, dan adat istiadat yang dimana seseorang dapat memahami
perbedaan tersebut. Dalam suku dan budaya indonesia memiliki pendapat yang
berbeda oleh karena itu setiap suku memiliki etika yang berbeda sesuai dengan
budaya suku itu sendiri.
Pengertian dari Etika di bahas sebagai berikut:
a)
Pada dasarnya moral
adalah sesuatu yang berkaitan dengan persoalan yang kita hadapi, akan tetapi
ini semua akan merugikan secara serius bagi generasi muda indonesia, juga bisa
menguntungkan.
b)
Moral bangsa indonesia
ini bergantung pada perkembangan teknologi negara tersebut, bukan di tetapkan
oleh suatu otoritatif tertentu.
c)
Suatu moral akan di
tentukan oleh kosa kata yang di gunakan dan emosi yang dapat merubah suatu
sikap dan prilaku seseorang.
d)
Standar moral adalah
suatu pertimbangan yang benar benar di katakan tidak memihak atau tidak berat
sebelah.
e)
Moral dan etika
sebenarnya harus di perhatikan karena pada awalnya moral dan etika seseorang
lebih di utamakan di bandingkan kepentingan diri sendiri.
Banyak juga pengertian tentang etika, yang menurut para ahli
berbeda-beda yang dimana saya menggaris bawahi bahwa itu semua tertuju sama.
Berikut ini beberapa Pengertian Etika Menurut para Ahli:
1)
Menurut K. Bertens, Etika
adalah nilai-nila dan norma-norma moral, yang menjadi pegangan bagi seseorang
atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya.
2)
Menurut W. J. S.
Poerwadarminto, Etika adalah ilmu pengetahuan tentang asas-asas akhlak (moral).
3)
Menurut Prof. DR. Franz
Magnis Suseno, Etika adalah ilmu yang mencari orientasi atau ilmu yang
memberikan arah dan pijakan pada tindakan manusia.
4)
Menurut Ramali dan
Pamuncak, Etika adalah pengetahuan tentang prilaku yang benar dalam satu
profesi.
5)
Menurut H. A. Mustafa,
Etika adalah ilmu yang menyelidiki, mana yang baik dan mana yang buruk dengan memperhatikan
amal perbuatan manusia sejauh yang dapat diketahui oleh akal pikiran.
2.2 Etika dan moral
Adapun perbedaan dari Etika dan Moral
yaitu dalam kehidupan sehari-hari istilah etika dan moral memiliki arti yang
sangat sama sehingga saya pun sulit dibedakan anatara keduanya. Moral adalah
suatu aturan (norma) atau prinsip hidup yang dimana kita dapat membedakan mana
yang baik dan mana yang buruk. Moral sangat di pengaruhi oleh nilai-nilai yang
dianut masyarakat, baik nilai universal, nilai agama, adat, ideologi, dan
sebagainya. Pengertian moral lebih kepada penilaian prilaku dan perbuatan yang
dilakukan oleh seseorang, baik atau buruk.
Etika sendiri lebih menuju pada
sistem nilai yang berlaku dan mempelajari bagaimana hakikat dan penerapan
kaidah moral tersebut. Etika berfungsi untuk memberi penilaian kritis dan
rasional atas perbedaan nilai-nilai moral yang ada, benar atau salah.
Contoh sederhana untuk membedakannya,
merokok di tempat umum adalah moral yang sangat buruk dan hampir setiap tempat
umum terdapat tulisan dilarang merokok, sesuai dengan nilai yang di pahami oleh
masyarakat tentang larangan merokok di tempat umum. Pelakunya dikatakan
bermoral buruk atau tidak bermoral. Namun bagaimana hakikat dari aturan tentang
di larangnya merokok pada tempat umum, apa keputusan tersebut salah ataukah
benar, dan bagaimana penerapan aturan yang dipelajari dan diatur melalui etika.
Seseorang yang merokok tidak dapat dikatakan tidak bermoral jika merokok pada
tempat yang di sediakan, akan tetapi tempat untuk merokok di indonesia ini
masih jarang di temui, meskipun sama-sama merokok, tetapi yang tidak merokok di
tempat umum di katakan lebih beretika karena tidak mengganggu orang lain. Hal
ini disebabkan adanya etika (aturan) yang membenarkan dan “mengizinkannya” untuk
melakukan hal itu.
2.3 Etika Organisasi
Organisasi adalah perkumpulan dimana
orang-orang bebas mengluarkan pendapat untuk mencari dan membagi informasi, dan
berbicara tentang organisasi kita tidak akan lepas dari pembahasan tentang
integritas,Menurut Ghillyer (2014), budaya organisasi dapat didefinisikan
sebagai nilai, keyakinan, dan norma yang dianut bersama oleh seluruh pegawai
dalam organisasi. 4 Budaya ini mewakili seluruh kebijakan dan prosedur setiap
departemen fungsional dalam organisasi baik tertulis maupun informal, dan juga
mewakili kebijakan serta prosedur organisasi secara keseluruhan.
2.4. Kode etika
organisasi Seprofesi
Organisasi seprofesi adalah
perkumpulan dimana mahasiswa yang mengambil jurusan yang sama atau orang-orang
yang memiliki suatu tujuan dengan job atau pekerjaan yang sama, organisasi ini
bertujuan agar memiliki tujuan yang menghadap kemasa yang akan datang. Dan
merupakan prinsip-prinsip umum yang dirumuskan dalam suatu profesi yang dimana
akan berbeda satu dengan lainnya seperti contohnya berbedah wilayah maka kita
akan mendapatkan banyak perbedaan seperti bahasa, adat, kebiasan, kebudayaan,
dan peranan tenaga ahli profesi yang di definisikan dalam suatu kota yang tidak
sama.
Adapun yang menjadi tujuan pokok dari rumusan etika yang di
tuangkan dalam kode etika profesi adalah:
§ Starndar-standar etika yang menjelaskan dan menetapkan tanggung
jawab terhadap klien, institusi, dan masyarakat pada umumnya
§ Standar-standar etika membantu tenaga ahli profesi dalam
menentukan apa yang harus mereka perbuat jika mereka menghadapi dilema-dilema
etika dalam pekerjaan
§ Standar-standar etika membiarkan profesi menjaga reputasi atau
nama baik profesinya dan fungsi-fungsi profesi dalam masyarakat untuk melawan
tindakan-tindakan yang negatif dari anggota-anggota tertentu
§ Standar-standar etika yang menjelaskan dan menetapkan bahwa setiap
profesi dapat mengeluarkan pendapat dan menerima pendapat
2.5 Pengertian Manfaat
Budaya Bagi Etika Berorganisasi
Budaya Organisasi (Organizational
Culture) dapat diartikan sebagai suatu persepsi umum yang diterima oleh seluruh
anggota organisasi dalam memandang sesuatu. Wilkins (1998) Budaya Organisasi
sebagai suatu yang dianggap biasa dan dapat dibagi bersama yang diberikan orang
terhadap lingkungan sosialnya. Contoh : Slogan, Legenda, Arsitek, Simbolis
Schein (1992) Budaya adalah sebagai asumsi-asumsi dan keyakinan-keyakinan dasar
yang dilakukan bersama oleh para anggota dari sebuah kelompok atau organisasi.
Robbins (1990) Budaya sebagai nilai-nilai dominan yang didukung oleh
organisasi. Pengertian ini merujuk pada sebuah sistem pengertian yang diterima
secara bersama. Robbins percaya bahwa ada hal mitos dalam organisasi yang telah
berkembang sejak beberapa lama.
Schiffman dan Kanuk (2000 : 322)
Budaya adalah sejumlah nilai, kepercayaan dan kebiasaan yang digunakan untuk
menunjukan perilaku konsumen langsung dari kelompok masyarakat tertentu. Dalam
hal ini budaya menunjukkan adanya sekelompok masyarakat yang memiliki
karakteristik yang membatasi mereka untuk bertindak.
Budaya Organisasi adalah wujud
anggapan yang dimiliki, diterima secara implisit oleh kelompok dan menentukan
bagaimana kelompok tersebut rasakan, pikirkan, dan bereaksi terhadap
lingkungannya yang beraneka ragam. Manfaat Budaya Organisasi : 1. Budaya memiliki
peran dalam menetapkan tapal batas yang artinya bahwa budaya organisasi
menciptakan perbedaan yang jelas antara satu organisasi dengan organisasi
lainnya. 2. Budaya membawa suatu
rasa identitas bagi anggota-anggota organisasi. 3. Budaya mempermudah timbulnya
komitmen pada sesuatu yang lebih luas dari pada kepentingan individual
seseorang. 4. Budaya itu meningkatkan kemantapan sistem sosial 5. Budaya
berfungsi sebagai mekanisme pembuat makna dan kendali yang memandu dan
membentuk sikap serta perilaku para anggotanya.
2.6 Hubungan Etika dalam
Organisasi
Ada beberapa Hubungan etika dalam
berorganisasi adalah sebagai berikut :
a)
Hubungan antara anggota
dengan organisasi yang tertuang dalam perjanjian atau aturan-aturan legal
b)
Hubungan antara anggota organisasi
dengan sesama anggota organisasi lainnya, antara anggota dengan pejabat dalam
struktur hirarki
c)
Hubungan antara anggota
organisasi ybs dengan anggota dan organisasi lainnya
d) Hubungan antara anggota dengan masyarakat yang di layaninya
2.7 Manfaat Dan
Pentingnya Etika Dalam Organisasi
Pentingnya etika dalam organisai
Seperti Contoh Seorang PNS, Dalam lingkungan organisasi pemerintahan seorang
aparatur dituntut untuk bekerja sebagai abdi negara dan abdi masyarakat. secara
etis seseorang aparatur merasa terpanggil untuk melayani kepentingan publik
secara adil tanpa membedakan kelompok, golongan, suku, agama serta status
sosial. seharusnya seorang aparatur harus dapat menjadikan dirinya sebagai
panutan tentang kebaikan dan moralitas pemerintahan terutama yang berkenaan
dengan pelayanan kepada publik. Dia senantiasa menjaga kewibawaan dan citra
pemerintahan melalui kinerja dan perilaku sehari-hari dengan menghindarkan diri
dari perbuatan yang tercela yang dapat merugikan masyarakat dan negara. Jadi
Etika pada dasarnya merupakan upaya menjadikan moralitas sebagai landasan
bertindak dan berperilaku dalam kehidupan bersama termasuk di lingkungan
profesi administrasi (Ryass Rasyid, 1996,43-44)
2.8 Etika Dalam Sidang
Saat Berorganisasi
Ada beberapa etika saat dalam
persidangan saat dalam organisasi contohnya saat dalam sidang paripurna, maupun
sidang musyawarah. Etika saat sidang berlangsung dimana setiap peserta sidang
wajib mengikuti tata tertib dan etika berbicara saat mengeluarkan pendapat.
Karena pada dasarnya sidang tersebut di isi orang-orang yang satu profesi,
yaitu dimana sidang seprofesi ini adalah sidang yang mencangkup pada contohnya
sidang Musyawarah Nasional yang di adakan oleh anggota dewan MPR dan DPR. Yang
pada saat itu anggota dewan MPR dan DPR mencari ketua umum untuk memimpin kedua
profesi tersebut. Banyak yang mangalami kejanggalan pada sidang tersebut seperi
membanting meja dan mengluarkan pendapat yang di sertai seruan suara yang
mengejek. Oleh karena itu apakah hal tersebut sepantasnya orang tersebut
melakukan hal berikaut.
2.9 Hal Yang Harus Di
Perhatikan Untuk Menjaga Etika Persidangan
Ada beberapa hal yang perlu
diperhatikan dalam persidangan/rapat:
1. Tempat/ruangan
2. Waktu
3. Agenda acara/pembahasan
4. Perlengkapan dan peralatan
5. Peserta
6. Tata tertib
7. Pimpinan sidang/rapat
8. Keputusan/kesimpulan sidang/rapat
Tempat Sidang. Perlu diperhatikan
tempat berlangsungnya sidang/rapat yang memadai. Jangan melangsungkan pertemuan
yang penting di tempat dimana tidak bisa berlangsung dengan baik karena
persoalan gangguan, tidak nyaman, format atau posisi peserta, tidak tersedianya
sarana penunjang dan sebagainya.
Waktu Sidang. Demi disiplin sidang
faktor waktu mesti diperhatikan. Jangan sampai sidang berlangsung tanpa ada
kepastian waktu, harus ditentukan durasi, dimulai dan diakhiri serta kapan
waktu istirahat jika sidang berlangsung lama. Para peserta harus displin dengan
persoalan waktu.
Agenda Pembahasan. Sebelum sidang/rapat berlangsung para peserta
harus sudah tahu materi apa yang akan dibahas. Jangan sampai peserta
menduga-duga maksud pertemuan, ketidakjelasan agenda pembahasan membuat
sidang/rapat bisa ngelantur kemana-mana. Kalau tidak ada agenda yang jelas,
maka itu kongkow-kongkow namanya, bukan bersidang:)
Perlengkapan/Peralatan. Siapkan apa
saja perlengkapan/peralatan yang dibutuhkan. Jika sidang/rapat berlangsung di
tempat yang luas maka diperlukan pengeras suara. Dalam sidang formil perlu juga
disiapkan palu untuk memutuskan/menetapkan hasil sidang/rapat.
Peserta . Siapa saja yang boleh
mengikuti persidangan, dan apakah dibolehkan peninjau. Siapa yang punya hak
bicara (menyampaikan pendapat) dan punya hak suara (membuat keputusan).
Tata Tertib. Harus diatur apa yang
boleh dan tidak boleh, etika dan aturan main persidangan. Pimpinan Sidang/Rapat.
Pimpinan bisa dari pimpinan organisasi atau ditunjuk oleh peserta sidang.
Tergantung dari jenis sidang/rapat itu sendiri. Pimpinan sidang/rapat haruslah
orang yang mengerti teknik bersidang/rapat. Sukses atau gagalnya persidangan
sangat ditentukan oleh keahlian dan kecakapan pimpinan. Banyak sidang
berlangsung chaos dan amburadul karena kesalahan pimpinan. Pimpinan haruslah
mempunyai sifat-sifat kepimpinan, berwibawa, peka, disiplin, bisa mengelola
konflik, santun dan sifat-sifat positif lainnya. Pokoknya pimpinan harus bisa
mengarahkan sidang ke arah keputusan secara efektif dan efisien.
Keputusan/Kesimpulan Sidang. Output
product dari persidangan/rapat adalah keputusan atau menghasilkan kesimpulan.
Keputusan yang dibuat tidaklah bertentangan dengan kehendak dan tujuan
organisasi, diusahakan memuaskan semua pihak. Hendaknya keputusan yang dibuat
mengedepankan asas musyawarah untuk mufakat, jangan langsung ambil voting.
Voting adalah cara terakhir jika musyawarah-mufakat tidak tercapai.
BAB II
PENUTUP
2.3 Kesimpulan
Dalam berorganisasi kita harus melakukan penilaian dan menjaga
setiap perkataan, sikap dan prilaku kita. karena pada dasarnya etika seseorang
bisa saja di bilang berbeda sesuai dengan kebudayaan dan RAS masing-masing pada
saat berorganisasi penulispun mengalami kejadian tersebut. dimana saat posisi
persidangan saat tidak kondusif dan ada dua pihak atau lebih yang mengalami
pendapat yang berbeda. Dan di posisi pihak yang kalah akan mengalami penolakan
yang di maksud mereka akan melakukan usaha agar mereka bisa memenangi
persidangan tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
v http://aprilnurahman.blogspot.com/2015/06/etika-dalam-organisasi_18.html?m=1
Tidak ada komentar:
Posting Komentar